Pengalaman Bekerja di Horeca

Related image
Nggak semua orang yang lulus S2 di luar negeri bisa langsung dapat pekerjaan dengan gaji yang bagus. Gue contohnya. Setelah lulus kuliah menyandang gelar Master di bulan April 2016, gue mendapatkan pekerjaan jadi Museum Guide di sebuah atraksi/museum yang baru buka di Amsterdam.

Pekerjaan tersebut ternyata lebih membawa dampak negatif ketimbang positif untuk gue. Saat itu, gue digaji cukup rendah, bahkan dibawah gaji normal untuk karyawan umur 25 tahun (di Belanda ada sistem zero hour worker, jadi kami hanya dibayar kalau masuk kerja aja). Jarak tempat kerja dan rumah juga jadi salah satu hambatan, karena mereka nggak mengganti ongkos kerja gue, sehingga nggak jarang gue besar pasak daripada tiang. Akhirnya, jadwal kerja yang nggak beraturan dan komunikasi antar pegawai yang sangat jelek membuat gue keluar dari museum tersebut.

Satu minggu setelah gue keluar dari museum, gue ditawari pekerjaan di sebuah toko. Akhirnya gue mengiyakan tawaran tersebut karena jadwal kerja yang pasti, gaji yang lumayan, dan ongkos jalan yang ditanggung empunya toko. Toko di Belanda artinya adalah restoran kecil yang menyediakan nasi rames ala Indonesia. Ada juga beberapa toko yang menjual bumbu-bumbu dapur Indonesia sebagai usaha tambahan. Toko tempat gue bekerja ini cukup spesial karena selain menjual nasi rames, mereka juga menjual jajanan abang-abang ala Indonesia secara ala carte seperti bebek kremes, tahu telor, bakso, soto, yang dimasak langsung sama kokinya.

Gue bekerja di toko tersebut selama empat bulan, dari bulan Oktober sampai bulan Februari. Selama empat bulan bekerja di sektor horeca, gue dapat banyak sekali pengalaman yang bisa gue simpulkan dibawah ini.

Kerja di horeca bikin gue menghargai pekerjaan bidang servis

Ini adalah pengalaman nomor satu yang gue dapat. Pink-collar worker (pekerja bidang servis) itu tergolong pekerja yang sangat bekerja keras, lho, karena tugas mereka adalah menservis pelanggan dan berhubungan langsung dengan pelanggan. Selain itu, mereka juga harus punya kemampuan fisik yang bisa menunjang pekerjaan mereka yang kebanyakan berdiri, jalan, lari, pokoknya apa-apa harus cepat. Pengalaman kerja jadi pink-collar worker membuat gue menghargai para pramusaji di restoran karena gue ngerti banget peliknya kerja di sektor ini. Jadi kalian jangan langsung marah-marah kalo pesen makan/minuman di restoran terus keluarnya lama, ya…

Kerja di horeca melatih manajemen waktu

Ini penting banget sih, terutama waktu gue kerja dulu, gue cuma kerja sama seorang koki. Kadang dia butuh bantuan gue untuk menyiapkan makanan. Manajemen waktu sangat penting karena kami mau hasil akhir makanan yang hangat sehingga bisa dinikmati pelanggan. Misalnya ada yang pesan ayam kremes, gue bertugas untuk menyiapkan piring dan menghangatkan nasi putih sementara si koki ngegoreng ayam. Biar semuanya hangat dan enak, gue harus pinter-pinter atur waktu kapan harus masukin nasi putih ke microwave biar selesai barengan sama si ayam goreng sehingga si koki nggak harus nunggu lama-lama untuk menghidangkan makanan tersebut. Kerjasama dan komunikasi yang baik sangat penting untuk eksekusi makanan ke pelanggan.

Kerja di horeca melatih kesabaran

Yang ini menyangkut hubungan gue dengan pelanggan. Toko tempat gue kerja banyak dikunjungi orang Belanda. Kebanyakan dari mereka emang baik dan menghargai kerjaan gue, tapi nggak jarang juga banyak orang separo mabok atau orang sombong yang suka kurang ajar. Gue pernah dapat pelanggan yang sudah beli makanan paling mahal, mau bayar kontan, gue bilang nggak ada uang kembalian, dan dia marah-marah terus akhirnya nggak jadi beli (padahal kan bisa bayar pake kartu, ya…) terus nyalahin gue yang nggak siap uang kontan. Lha, gue sih nggak mau tau, yang penting situ bisa bayar makanan situ. Orang-orang yang kayak gini emang harus disabar-sabarin atau bisa langsung dijutekin kalau kelakuan mereka udah kurang ajar banget.

Kerja di horeca membuka pengetahuan gue tentang kepribadian orang

Mungkin ini stereotip atau juga bukan, tapi kerja di toko bikin gue tau gimana cara berurusan dengan orang yang kepribadiannya beda sama gue. Koki di toko tempat kerja gue adalah orang yang sangat reaktif dan cenderung nggak sabar. Kadang-kadang gue lupa sesuatu, terus kalau gue tanya dia, dia sering banget jawab gue dengan jutek seolah-olah bilang “Kok udah berapa kali diajarin tetep aja lupa sih?”. Sering banget gue beradu pendapat sama si koki ini karena sifat reaktifnya dia membuat dia gampang membuat kesimpulan akan sesuatu, walaupun kesimpulannya itu belum tentu benar. Ini sering terjadi di minggu-minggu terakhir sebelum gue keluar dari pekerjaan tersebut karena dapat pekerjaan tetap. Walaupun pas ngalaminnya nggak enak, tapi pas keluar ternyata gue dapat pengalaman juga kerja dengan orang yang sumbunya lebih pendek daripada gue.

Sebenernya ada lebih banyak pengalaman lain, tapi poin-poin di atas cukup mewakilkan semuanya. Apa kamu pernah kerja di bidang servis? Apa pengalaman yang kamu petik selama bekerja di bidang tersebut?