Teman Masa Kecil

Yang namanya teman masa kecil tuh sampe kapanpun nggak akan bisa lupa, ya. Baik itu teman kecil di TK atau saat SD. Gue juga punya beberapa teman baik yang menemani masa kanak-kanak gue, tapi yang berkesan sih cuma ada tiga.

Agita, teman masa TK

Agita adalah teman pertama gue waktu TK. Orangtuanya berasal dari Solo, jadi dia punya kebiasaan ngomongnya medok. Nggak banyak yang gue inget tentang Agita, yang gue inget adalah kami suka tuker-tukeran makanan waktu jam istirahat, tukeran cincin mainan, dan tukeran cerita horor ala-ala anak TK.

Setelah lulus TK, Agita dan gue berpisah. Gue meneruskan SD ke sebuah SD Katolik di dekat rumah, Agita pindah ikut orangtuanya ke Solo. Gue lupa, tapi kata orang rumah, dulu Agita sering kirim surat ke gue, tapi gue selalu lupa balas dan akhirnya pertemanan kami selesai.

Bertahun-tahun kemudian, berkat media sosial, gue kembali bisa menemukan Agita! Saat itu gue iseng mencari namanya di Facebook, gue juga lupa darimana ceritanya gue ingat nama panjangnya. Seketika gue mendapatkan profilnya dan langsung kirim pesan “Ingat-gue-nggak?”. Ternyata dia masih ingat, dan mamanya juga masih ingat gue! Sayangnya kami nggak pernah ketemu lagi karena dia saat itu bersekolah di Singapura, dan sekalinya udah balik ke Indonesia, dia langsung ikut bisnis orangtuanya di Solo. Tapi kami tetap berteman via Facebook, kok.

Kakak Acha

Kakak Acha adalah tetangga gue dulu dan teman main rumah-rumahan saat gue kelas 2 SD. Saat itu, kak Acha udah kelas 6 SD, tapi dia masih suka ngeladenin gue main rumah-rumahan. Dulu, area bermain kami adalah kamar tidur tamu di lantai atas, karena jarang ada yang menempati dan banyak lemari-lemari kosong. Kami menjadikan lemari itu sebagai ‘rumah’ yang diisi banyak mainan perintilan kecil-kecil. Kak Acha dulu baik banget dan sabar banget. Biasanya kami main hampir setiap hari jam 4 sore, setelah semua PR gue selesai. Kak Acha biasanya mandi sore dan makan malam di rumah gue sebelum pulang ke rumahnya yang hanya berjarak 3-4 rumah jauhnya dari rumah gue. Kurang tetangga apa, coba?

Selain teman main, kak Acha juga teman gereja. Kebetulan, ibunya adalah teman baik bokap gue yang sampai saat itu jadi tetangga gue. Akhirnya gue jadi sering main sama kak Acha, bahkan gue ajak dia liburan ke Bandung bareng-bareng untuk mengunjungi Nini dan Aki.

Waktu gue naik kelas 3 SD dan kak Acha lulus SD, dia harus pindah ke Manado beserta ibunya. Sebelum ada media sosial, lagi-lagi nggak ada kabar, tapi waktu SMA gue akhirnya berhasil mengontak kak Acha karena dia pulang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sempat diwawancara di kantor Oma, tapi sepertinya nggak keterima dan akhirnya dapat pekerjaan di sekolah dekat rumah gue dulu.

Update:¬†Denger-denger, kakak Acha bakal menikah di bulan Agustus tahun ini. Sayangnya gue nggak bisa datang karena nggak pulang di bulan itu… ūüė¶

Dinda

Dinda ini adalah kawan gue saat kelas 5 SD. Yang gue inget, sejak kelas 4 SD gue udah kenal dia, tapi nggak begitu akrab. Kami jadi akrab waktu kelas 5 SD, dimulai dari surat-suratan di kelas, padahal kami ada di kelas yang sama, hahaha! Isi surat-suratannya macem-macem mulai dari ngegosipin guru nyebelin sampe ngomongin gebetan cinta monyet. Lama-lama gue jadi suka nongkrong sama Dinda sepulang sekolah, bahkan setiap hari Jumat dia suka main ke rumah gue untuk main PlayStation. Kami juga jadi sering main ke mall sama-sama di akhir pekan.

Yang gue inget dari pertemanan gue dan Dinda dulu adalah kami sama-sama ‘sok bandel’. Sama-sama ngerasa¬†me against the world,¬†bahkan dengerin musiknya juga sama, yaitu Linkin Park, hehehe… Selain itu, Dinda anaknya kelihatan¬†rebel¬†banget dan sifat itu beda banget sama gue, jadi sepertinya dulu gue pengen jadi kayak dia yang gayanya kayak anak gaul. Keluarganya sifatnya lumayan¬†hippie,¬†ngebebasin anak-anaknya ngapain dan kemana aja, dan bokapnya punya VW Caravelle yang menurut gue retro dan gaul abis.

Sayangnya pertemanan gue dan Dinda berakhir di kelas 6 SD karena kami pisah kelas. Selanjutnya saat SMP kami masuk ke sekolah yang sama, tapi saat itu Dinda udah makin keren, ikutan tim voli sekolah, dan bergaul sama orang-orang keren juga. Waktu SMP itu, Dinda udah mulai ngerokok. Akhirnya kami makin jauh dan walaupun waktu kelas 3 SMP kami sekelas lagi, pertemanan gue dan Dinda udah nggak seperti waktu kami kelas 5 SD.

Setelah SD itu, pertemanan gue ganti-ganti, tapi tiga orang inilah yang membentuk pertemanan gue dan yang paling gue inget sampe sekarang. Kalau kamu, punya temen masa kecil yang masih membekas gak (walaupun sekarang mungkin udah nggak tau lagi dia dimana)?

(Jadi pengen kepo Facebook temen-temen jaman dulu, kan…)