Budaya Rumania, Mirip-mirip Indonesia Juga…

“Rumania? Itu di Eropa sebelah mana, ya?”

Mungkin itu reaksi teman-teman gue begitu gue bilang R adalah orang Rumania. Ada juga yang tahu Rumania itu dimana, tapi biasanya mikir Rumania itu dekat Rusia, atau langsung bilang “Wow, Drakula” (walaupun Vlad Tepes alias Count Dracul memang berasal dari Rumania).

Gue sendiri jujur aja dulu juga nggak paham sama letak negara ini. Gue kira dulu dekat Rusia, karena bahasa mereka mirip bahasa Rusia. Ternyata bahasa mereka lebih dekat ke bahasa-bahasa Romance seperti Latin, Prancis, Italia, dan Spanyol. Pengaruh bahasa Rusia dikit banget, cuma ada di penyusunan kata dan penyebutan kata doang. Selain itu, Rumania letaknya jauh dari Rusia. Dia cuma berbatasan sama Ukraina, Moldova, Hungaria, Serbia, dan Bulgaria. Rumania sering dijuluki “the asshole of Europe” karena letak geografisnya yang diujung Eropa banget, coba aja liat peta dibawah ini kalo mau buktiin…

Image result for romania map in europe
Pantat Eropa xD

Tapi di tulisan gue kali ini gue nggak mau ngomongin letak geografis Romania, melainkan kebudayaan Romania terutama di bagian interaksi manusianya yang menurut gue rada mirip sama kebudayaan Indonesia! Menurut gue, Romania dan Indonesia itu sama-sama mempunyai kebudayaan we culture yaitu kebudayaan yang cenderung kolektif dan mengandung nilai-nilai toleransi dan gotong royong, berbeda dengan kebudayaan Belanda yang cenderung I culture alias mengutamakan kebebasan individu.

Yang pertama, kebudayaan menyambut tamu di rumah. Orang Rumania sangat menghormati tamu, sehingga kalau kita main ke rumah orang Rumania, pasti apa aja bakal ditawarin sebagai makanan. Sama aja kayak di Indonesia. Bahkan kata-kata seperti “Tambah lagi ya”, “Mau bawa pulang?” juga sering dilontarkan tuan rumah saat ada yang bertamu. Tapi bedanya sama orang Indonesia, orang Rumania termasuk orang-orang yang nggak suka basa-basi, jadi kalo mau bawa pulang ya bilang aja iya. Kalo bilang nggak mau, ya nggak bakal ditawarin lagi. Beda sama kebudayaan nggak enak ala Indonesia saat bertamu, niatnya pengen ngabisin kaastangels, disuruh bawa pulang, karena malu bilang “nggak, makasih”, dan harus ditawarin tiga kali sebelum akhirnya bilang “boleh deh, kalo nggak ngerepotin”.

Kedua, orang Rumania suka banget ngobrol berjam-jam dan ngalor ngidul. Hal ini gue alami saat pergi house party bersama R ke rumah temannya yang sedang ulangtahun. Wah, itu serumah orang Rumania semua, dan kelihatan banget mereka orangnya ‘rame-an’, suka ketawa-ketawa, gampang mingle dengan orang baru, dan mudah berinteraksi. Jujur aja gue langsung berasa ‘di rumah’ saat berkenalan sama teman-teman Rumania-nya si R karena mereka langsung bikin gue nyaman dengan hospitality mereka. Hospitality macam ini juga gue temui di kalangan orang Italia atau negara-negara Eropa Selatan yang mudah banget bergaul sama orang lain.

Ketiga, orang Rumania masih percaya banget sama takhayul! Yes, negara ini emang cukup superstitious, sama banget kan kayak Indonesia? Hal ini dikarenakan agama mayoritas Romania yaitu Eastern Orthodox yang sangat kental tradisinya Di pedesaan, masih banyak orang yang percaya dengan ilmu sihir, dan mereka juga percaya sama hantu-hantuan dan doa-doa tradisional, biasanya sih dicampur dengan keyakinan Ortodoks mereka. R yang kini nggak mengaku Ortodoks, sampai sekarang masih menyimpan kartu bergambar Santo pelindungnya, Saint George. Masalah agama, orang Rumania sangat bangga dengan agama mayoritas mereka ini karena Eastern Orthodox punya influence yang sangat erat di bidang arsitektur dan kesenian Rumania, terutama seni lukis. Udah gitu, arsitektur dan interior gereja-gereja Eastern Orthodox juga sangat dibanggakan mereka karena emang bagus banget! Menurut gue, kebudayaan Eastern Orthodox ini termasuk identitas negara Rumania yang cukup membanggakan,

Image result for romanian orthodox art
Kesenian gereja ala gereja Rumania
Image result for romanian orthodox churches romania
Contoh interior katedral Eastern Orthodox di Sibiu, Rumania

Yang keempat, sejarah Indonesia dan Rumania menurut gue hampir mirip, terutama Rumania di masa komunis. Gue dan R serta keluarganya sering banget ngobrol tentang hal ini, dan entah kenapa gue merasa punya kesamaan berpikir dengan R tentang apa yang membentuk dua negara kami jadi negara yang sekarang ini. Gue senang bercerita tentang Indonesia masa 1950, 1960, tragedi 1965, dan Orde Baru selama 32 tahun; sementara R senang bercerita tentang masa-masa komunisme di Rumania. Saat Rumania menjadi negara komunis, Indonesia sedang berada dalam masa Orde Baru, dan menurut R, praktik-praktik Orde Baru sama banget seperti praktik komunisme di Rumania. Gue bercerita tentang stigma PKI yang begitu kental setelah peristiwa 1965 termasuk ke kalangan keluarga dan betapa susahnya seseorang mau masuk universitas negeri kalau keluarganya dikira simpatisan komunis, dan R bilang, “Gila, itu fasis banget, kalo di Rumania dulu blablablablabla…” Gimana ya jelasinnya, pokoknya kalo ngobrol tentang sejarah negara, sebenernya Indonesia itu nggak jauh beda sama Rumania. Tapi bedanya… Rumania mau mengakui dan memeluk cerita kelam mereka saat berada pada rezim komunisme sebagai bagian dari sejarah mereka, sementara di Indonesia, ngomongin komunis di tahun 2017 aja rasanya kayak berdosa banget.

Gue sendiri masih belajar juga tentang budaya Rumania, dan yang bikin nggak sabar, bulan Juli mendatang gue akan berlibur ke Rumania selama 10 hari. Asyik!